Penyerangan terhadap Kapolda Disebut Prosesi Adat, Ini Penjelasan soal Tarian Weita

Andi Mohammad Ikhbal ยท Senin, 24 Mei 2021 - 09:43:00 WIT
Penyerangan terhadap Kapolda Disebut Prosesi Adat, Ini Penjelasan soal Tarian Weita
Kapolda Papua Irjen Pol Mathius Fakhiri diserang saat berada di rumah duka Wakil Gubenur Papua Klemen Tinal di Kota Jayapura, Sabtu (22/5/2021) malam. (Foto: iNews/Chanry Andrew Suripatty)

JAYAPURA, iNews.id - Aksi anarkistis yang sempat terjadi di rumah duka Wakil Gubernur Papua, Klemen Tinal, sempat dianggap sebagai prosesi adat. Ritual tersebut dinamakan Tarian Weita, untuk menyambut kedatangan jenazah.

Namun dari informasi yang dihimpun iNews.id, tarian ini dikhususkan untuk menyambut jenazah yang meninggal tak wajar, seperti kecelakaan, akibat penganiayaan dan bukan lantaran sakit, seperti yang dialami mendiang Klemen Tinal.

Kemudian gerakan tarian ini seperti orang melakukan tumbuk tanah. Selain itu harus ada rundown acara. Kemudian para perempuan memakai pakaian adat. Umumnya acara tersebut berlangsung di pantai dan para penari membalut tubuh dengan lumpur.

Insiden yang terjadi di rumah duka Wagub Klemen Tinal di Kota Jayapura, dipastikan aksi anarkistis, bukan adat. Indikasinya, massa melampiaskan kemarahannya.

Dugaan penyerangan terhadap Kapolda Papua, Irjen Pol Mathius Fakhiri terjadi pada Sabtu (22/5/2021) lalu. Warga memang tampak menari sambil melempari rombongan pengantar jenazah yang baru saja tiba di rumah duka.

Ada anggapan aksi tersebut bukanlah penyerangan, namun tarian adat menyambut kedatangan jenazah. Kepercayaan ini sebagai bentuk kehilangan sosok yang berarti bagi warga.

Editor : Andi Mohammad Ikhbal