PAPUA, iNews.id - Aparat mengungkap fakta di balik beredarnya dua video yang diklaim sebagai aksi eksekusi warga sipil oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Papua. Hasil penelusuran aparat menunjukkan kedua rekaman tersebut merupakan dokumentasi peristiwa lama yang kembali disebarkan dengan narasi menyesatkan untuk memicu ketakutan masyarakat.
Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz 2026, Kombes Pol Yusuf Sutejo mengatakan, polisi telah menyelidiki dan memverifikasi keaslian serta waktu pembuatan video tersebut. Hasilnya, tidak ditemukan bukti bahwa kedua peristiwa dalam rekaman itu terjadi seperti yang diklaim kelompok bersenjata.
"Kedua video yang beredar luas itu murni dokumentasi lama dan merupakan bentuk propaganda pihak KKB," tegas Kombes Yusuf dikutip dari iNews Sorong Raya.id, Minggu (1/11/2026).
Salah satu video berdurasi 1 menit 15 detik memperlihatkan penganiayaan terhadap tiga perempuan di Dekai, Kabupaten Yahukimo.
Kelompok yang mengatasnamakan sayap militer TPNPB-OPM mengklaim rekaman tersebut merupakan hukuman mati terhadap seseorang yang dituduh sebagai intelijen militer pada Jumat (30/10/2026).
Namun, hasil penelusuran tim siber menemukan rekaman itu sudah pernah diunggah ke media sosial Facebook pada Maret 2025. Dengan demikian, video tersebut bukan dokumentasi peristiwa baru seperti narasi yang disebarkan.
Polisi juga mengungkap fakta di balik video kedua berdurasi 31 detik yang diklaim Kodap III Ndugama Derakma. Rekaman itu dikaitkan dengan pembunuhan seorang sopir lintas Wamena-Nduga yang dituduh membawa pasokan logistik TNI.
Dalam narasi yang disebarkan, peristiwa tersebut disebut terjadi pada akhir Maret. Padahal, polisi menyatakan kejadian sebenarnya berlangsung pada 20 April 2026. Korban bernama Robert Terry alias Sula, bukan Regeny Jems Patty seperti yang disebut dalam narasi video.
Menurutnya, penyebaran ulang rekaman tersebut merupakan upaya memprovokasi KKB atau dikenal Organisasi Papua Merdeka (OPM) terhadap masyarakat melalui informasi yang tidak benar.
"Ini adalah bentuk provokasi influencer mereka Sebby Sambomagar masyarakat takut. Tindakan ini murni mencari perhatian dan propaganda murahan," ucapnya.
Selain menyebarkan video, kelompok tersebut juga disebut menyertakan ancaman pengosongan wilayah yang ditujukan kepada aparatur sipil negara (ASN), tenaga medis, dan masyarakat pendatang.
Dia mengimbau masyarakat agar tidak mudah percaya atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi. Warga juga diminta tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh konten yang berpotensi menimbulkan keresahan di Papua Pegunungan.
Editor : Kurnia Illahi
Artikel Terkait