Frans Kaisiepo, tokoh pahlawan nasional asal Papua. (Foto : SINDOnews).
Fajar Hendra Jaya

JAKARTA, iNews.id - Pahlawan nasional dari Papua merupakan salah satu promotor pergerakan perjuangan kemerdekaan di bumi Cenderawasih. Mereka bertaruh nyawa dan bertumpah darah untuk mengusir para penjajah.

Jasa-jasa mereka perlu dikenang dan diabadikan sebagai pahlawan nasional. Mereka ikut berperan hingga Indonesia menjadi negara yang merdeka dan berdaulat.

Berikut pahlawan nasional dari Papua:

Silas Papare

Silas Papare merupakan salah satu pahlawan pergerakan kemerdekaan dari Papua. Silas Papare lahir di Kepulauan Yapen Waropen, 18 Desember 1918. 

Silas Papare merupakan pribadi yang gigih dan pantang menyerah untuk mengusir sekutu dari tanah Papua. Silas Papare juga sebagai penggerak para pemuda-pemudi Papua dan memengaruhi Batalyon Papua untuk memberontak terhadap sekutu serta membasmi kolonialisme Belanda yang tumbuh di Papua.

Silas Papare kemudian ditangkap dan dijebloskan ke dalam penjara. Silas Papare didelegasikan oleh Presiden Soekarno untuk menjadi salah seorang delegasi Indonesia dalam New York Agreement yang ditandatangani pada 15 Agustus 1962 untuk mengakhiri konfrontasi Indonesia dengan Belanda dalam sengketa Irian Barat

Penandatanganan perjanjian tersebut, Irian Barat resmi bergabung ke dalam bagian Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Silas Papare kemudian diangkat menjadi pahlawan nasional dengan keputusan SK Nomor 077/TK/1993 dan resmi diberikan gelar pahlawan nasional pada 14 September 1993.

Frans Kaisiepo

Salah satu pahlawan nasional yang berasal dari Papua, yakni Frans Kaisiepo. Gambar wajahnya terpampang pada mata uang pecahan Rp10.000. 

Frans Kaisiepo lahir di Biak pada 10 Oktober 1921 dan merupakan aktivis muda pergerakan kemerdekaan Republik Indonesia di wilayah Papua. Menjelang tiga hari kemerdekaan Republik Indonesia, Frans Kaisiepo mengajak pemuda-pemudi setempat untuk menyetel lagu Indonesia Raya di Kampung Harapan Jayapura pada 14 Agustus 1945.

Kemudian, pada 31 Agustus 1945, Frans Kaisiepo mengibarkan bendera Merah Putih untuk yang pertama kalinya dan melaksanakan upacara bendera dengan iringan lagu Indonesia Raya. Frans Kaisiepo juga pernah menjabat sebagai Gubernur Papua pada 1964-1973.

Frans Kaisiepo meninggal dunia pada 10 April 1979 di usia 57 tahun dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cenderawasih, Kota Jayapura. Untuk mengenang jasanya, nama Frans Kaisiepo diabadikan menjadi nama bandar udara di Biak  dan dijadikan sebagai salah satu nama Kapal Perang Republik Indonesia (KRI), yakni KRI Frans Kaisiepo.

Marthen Indey

Marthen  Indey lahir di Doromena, Jayapura pada 14 Maret 1912. Beliau mengawali kariernya menjadi polisi Hindia Belanda untuk mengawasi para tahanan, yakni para pejuang Indonesia yang diasingkan oleh Belanda. 

Dari tugasnya tersebut, Marthen Indey berkenalan dengan salah satu tahanan politik, yakni Sugoro Atmoprasojo yang merupakan mantan guru Taman Siswa. 

Perkenalan itu membuat rasa nasionalisme Marthen Indey mulai tumbuh secara perlahan. Marthen Indey merupakan salah satu tokoh penggerak pembebasan Irian Barat dari belenggu jajahan Belanda. 

Pada 1962, masa Tri Komando Rakyat (Trikora) Marthen Indey menyusun strategi untuk membentuk kekuatan gerilya dari para pemuda-pemudi Papua yang terintegrasi menjadi satu serta, menciptakan misi penyelamatan para anggota RPKAD yang ditahan.

Berkat jasanya, Marthen Indey diangkat menjadi sebagai salah satu anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS). Marthen Indey meninggal dunia pada 17 Juli 1986 kemudian diangkat menjadi pahlawan nasional bersamaan dengan Frans Kaisiepo dan Silas Papare yakni berdasarkan  keputusan SK Nomor 077/TK/1993 dan resmi diberikan gelar pahlawan nasional pada 14 September 1993.

Johannes Abraham Dimara

Merupakan salah satu tokoh dalam pergerakan pembebasan Irian Barat dalam belenggu jajahan Hindia Belanda. Johannes Abraham Dimara juga diangkat  sebagai ketua Organisasi Pembebasan Irian Barat (OPI).

Johannes Abraham Dimara juga berperan dalam penyebaran berita kemerdekaan Republik Indonesia di tanah Papua atas dasar perintah dari kapten kapal Sindoro yakni Kapten Yos Sudarso. 

Johannes Abraham Dimara menjadi salah satu delegasi perjanjian New York untuk pembebasan Irian Barat dari Hindia Belanda , bersama Marthen Indey, Silas Papare dan juga Frans Kaisiepo.

Johannes Abraham Dimara mendapat tanda penghargaan dari pemerintah berupa Satya Lencana Perang Kemerdekaan Kesatuan dan Satya Lencana Bhakti. Atas jasanya Pemerintahan RI menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional berdasarkan Keppres No. 113/TK/2011.


Editor : Kurnia Illahi

BERITA TERKAIT