KSAL Laksamana Yudo Margono ditunjuk sebagai calon tunggal Panglima TNI menggantikan Jenderal Andika Perkasa. (Foto : Antara)
Felldy Utama, Alifia Gita Riani

JAKARTA, iNews.id - Presiden Joko Widodo (Jokowi) menunjuk Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL) Laksamana Yudo Margono sebagai calon tunggal Panglima TNI. Yudo akan menggantikan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa yang memasuki masa purna tugas.

Dengan penunjukan ini, Yudo Margomo akan menjadi Panglima TNI ketiga dari kesatuan TNI AL. Sebelumnya dari TNI AL, sudah ada dua laksamana yang pernah menjabat sebagai Panglima TNI.

Keduanya yakni Laksamana TNI Widodo Adi Sutjipto yang menjabat tahun 1999 hingga 2002. Kemudian Laksamana TNI Agus Suhartono yang menjabat pada tahun 2010 hingga 2013.

Kepastian ini berdasarkan Surat Presiden (Surpres) yang diterima DPR, Senin (27/11/2022) hari ini. Surpres itu diserahkan Mensesneg Pratikno mewakili Presiden Jokowi dan diterima Ketua DPR Puan Maharani.

"Yang menggantikan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa adalah Laksamana TNI Yudo Margono," ujar Puan Maharani di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin (27/11/2022).

Diketahui, Panglima TNI merupakan pejabat yang menjadi pucuk pimpinan Tentara Nasional Indonesia. Berdasarkan sejarahnya, Panglima TNI telah dijabat 19 kali jenderal dari kesatuan TNI AD. Kemudian tiga marsekal dari TNI AU dan dua laksamana dari TNI AL.

Berikut 2 Panglima TNI dari TNI AL :

1. Laksamana TNI Widodo Adi Sutjipto

Laksamana Widodo Adi Sutjipto menjabat sebagai Panglima TNI sejak 26 Oktober 1999 hingga 7 Juni 2002. Dia lahir di Boyolali, 1 Agustus 1944 dan menjadi Panglima TNI di era Presiden Abdurrahman Wahid dan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Selain itu, di masa Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Widodo pernah diamanahi posisi Menko Polhukam (Menteri Koordinator Bidang Hukum, Politik dan Keamanan Indonesia). Kemudian menjadi Menpan RB (ad interim) dan Menteri Dalam Negeri (ad interim).

Laksamana Widodo masuk Akademi Angkatan Laut (AAL) pada 1968. Dia menjadi Kepala Staf TNI AL sebelum diangkat menjadi Wakil Panglima TNI oleh Presiden BJ Habibie pada tahun 1999. Dalam sejarah militer Indonesia, Widodo AS merupakan panglima TNI pertama dari kesatuan TNI AL.

Kedua Panglima TNI dari kesatuan TNI AL yakni Laksamana Widodo Adi Sucipto dan Laksamana Agus Suhartono. (Foto: ist.)

2. Laksamana TNI Agus Suhartono

Laksamana Agus Suhartono menjabat sebagai Panglima TNI di pemerintahan Presiden SBY. Dia menjabat sejak 28 September 2010 hingga 30 Agustus 2013 menggantikan Jenderal TNI (Purn) Djoko Santoso.

Agus dicatat dalam sejarah TNI sebagai panglima kedua dari kesatuan TNI AL. Dia menjadi Panglima TNI selama hampir tiga tahun hingga pensiun.

Laksamana Agus lahir di Blitar, 25 Agustus 1955. Dia alumni AAL tahun 1978. Karena sepak terjangnya di dunia kelautan, Agus Suhartono dijuluki sebagai salah satu penakluk samudera di jajaran elite TNI AL.

Profil Laksamana Yudo Margono

Laksamana Yudo Margono menjabat sebagai KSAL ke-27 sejak tanggal 20 Mei 2020. Dia lahir dari keluarga petani di Madiun 26 November 1965.

Yudo merupakan lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) angkatan ke-XXXIII/tahun 1988. Dia menamatkan pendidikan dasar di SDN 02 Garon dan sekolah lanjutan di SMA Negeri 1 Mejayan.

Karienya di militer sangat mentereng. Dia memulainya sebagai Asisten Perwira Divisi (Aspadiv) Senjata Artileri Rudal di KRI YNS 332 (1988) kemudian dipromosikan menjadi Kadep Ops KRI Ki Hajar Dewantara 364, Palaksa KRI Fatahillah 361, Komandan KRI Pandrong 801, Komandan KRI Sutanto 877 hingga Komandan KRI Ahmad Yani 351.

Kemudian dipromosikan sebagai Komandan Lanal Tual (2004-2008), Danlanal Sorong (2008-2010), Komandan Satkat Koarmatim (2010-2011), Komandan Satkor Koarmatim (2011-2012), Komandan Kolat Koarmabar (2012-2014), Paban II Opslat Sopsal (2014-2015), Danlantamal I Belawan (2015-2016), Kepala Staf Koarmabar (2016-2017).

Selanjutnya menjadi Pangkolinlamil (2017-2018), Pangkoarmabar (2018), Pangkoarmada I (2018-2019), Pangkogabwilhan I (2019-2020) dan KSAL (2020-Sekarang).

KSAL Laksamana TNI Yudo Margono. (Foto: Istimewa)

Editor : Donald Karouw

BERITA TERKAIT