70 Penyu Sisik Dilepasliarkan di Pantai Tuturuga Raja Ampat

Dani M Dahwilani ยท Minggu, 24 Maret 2019 - 16:07:00 WIT
70 Penyu Sisik Dilepasliarkan di Pantai Tuturuga Raja Ampat
Kapolda Papua Barat Brigjen Pol Rudolf Albertg Rodja saat melepasliarkan penyu sisik di Pantai Tuturuga, Perairan Raja Ampat. (Foto: Istimewa)

WAISAI, iNews.id – Sedikitnya 70 ekor penyu sisik dilepasliarkan ke laut lepas di Pantai Tuturuga, Pulau Gag, Distrik Waigeo Barat, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat, Minggu (24/3/2019). Kampanye pelestarian penyu ini menjadi agenda konservasi lingkungan yang dilakukan Polda Papua Barat dan PT Gag Nikel.

Sebelum dilepasliarkan, masyarakat Pulau Gag telah melakukan penangkaran anakan penyu atau tukik tersebut selama kurang lebih 3 sampai 7 bulan. Tujuannya, agar saat dilepas ke alam liar, penyu-penyu itu dapat bertahan dari ancaman predator laut.

"Pelepasan penyu ini merupakan bagian dari proses yang panjang. Sebelum dilepas, telur-telur penyu dijaga dari serangan pemangsa, kemudian dilakukan penangkaran terlebih dahulu supaya mereka dapat survive di alam liar," ujar Presiden Direktur PT Gag Nikel Risono di lokasi pelepasan penyu, Minggu (24/3/2019).

Dia melanjutkan, telur penyu tersebut dipindahkan ke bak penampungan hingga menetas dan dilepaskan setelah cangkangnya mulai menguat. Selain demi menjaga kelestarian lingkungan, pelepasan penyu dinilai dapat menguntungkan di masa mendatang. Para wisatawan yang berkunjung ke Raja Ampat nantinya dapat menikmati alternatif destinasi wisata penyu di Pulau Gag.

Adalah Hasan Sangaji, warga lokal yang melakukan penangkaran penyu tersebut. Dia berbagai cerita tentang semangat dan mengajak warga lainnya agar peduli terhadap kelestarian penyu.

"Saya lakukan ini bukan untuk masa depan saya, karena umur saya sebentar lagi. Tapi saya lakukan ini untuk menebus dosa saya yang dulu sering makan telur penyu," kata Hasan.

Dia mengaku mulai menyadari tentang pentingnya menjaga kelestarian penyu, setelah menerima edukasi dari PT Gag Nikel. Pada Agustus tahun lalu, Hasan diajak belajar tentang tata cara penangkaran di Bali.

"Saya mempelajari cara menjaga telur penyu sampai menetas, kemudian melatih penyu-penyu supaya bisa bertahan di alam liar," ucapnya.

Kapolda Papua Barat Brigjen Pol Rudolf Albertg Rodja mengimbau masyarakat agar tidak mengonsumsi telur atau daging penyu. Sebelumnya, telur dan daging penyu merupakan salah satu makanan favorit di Pulau Gag.

Kurangnya pengetahuan tentang habitat hewan dilindungi, menjadi penyebab penyu masih digandrungi sebagai konsumsi. Apalagi saat ini penyu sisik merupakan jenis penyu terancam punah yang tergolong dalam familia Cheloniidae.

"Di sini siapa yang pernah makan telur penyu? Besok-besok jangan lagi. Bolehkah? diganti sama telur ayam saja ya," ucap Rudolf.

Selain itu, Kapolda juga meminta supaya PT Gag Nikel dapat bekerja sama dengan warga lokal dalam mengembangkan pariwisata di Pulau Gag.

"Pulau Gag nanti bisa jadi percontohan, di mana kegiatan pertambangan berdampingan dengan pariwisata. Jadi kekayaan alam dan potensi wisata sama-sama dapat dimanfaatkan," tuturnya.

Diketahui, Pulau Gag atau yang sering disebut Kampung Gag dihuni sekitar 1.000 jiwa. Untuk mencapai Pulau Gag, perjalanan ditempuh menggunakan speedboat sekitar 4 jam dari dermaga di Kabupaten Sorong.

Editor : Donald Karouw