Profil Papua Selatan Provinsi Baru Hasil DOB, Sejarah, Wilayah dan Kerangka Pemerintahan

Antara ยท Sabtu, 09 Juli 2022 - 08:26:00 WIT
Profil Papua Selatan Provinsi Baru Hasil DOB, Sejarah, Wilayah dan Kerangka Pemerintahan
Papua Selatan sebagai provinsi baru di Papua hasil pemekaran atau DOB. (Foto : ist)

Dengan demikian, dapat dipahami perjalanan pembentukan Papua Selatan demi mewujudkan Tanah Papua menjadi lebih maju ini bukanlah perjuangan membalikkan telapak tangan. Sebaliknya, perjalanan membentuk provinsi yang juga dikenal dengan nama wilayah adat Anim Ha ini memakan waktu sekitar 20 tahun.

Johanes pun menyampaikan, wilayah Papua Selatan merupakan daerah yang dirancang Tuhan di rusuk selatan Tanah Papua. Tanah datar yang begitu luas itu dianugerahi kepada enam suku besar, yakni Marind, Muyu, Mandobo, Awyu, Mappi dan Asmat. Mereka inilah yang menjadi pewaris wilayah Papua Selatan.

Jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa di wilayah Papua Selatan, daerah tersebut dihuni suku-suku yang bertahan hidup dengan berburu, meramu dan berkebun. Lalu pada abad ke-19, bangsa Eropa mulai menjajah Pulau Papua. Mereka membelah wilayah tersebut dengan garis lurus yang menyebabkan bagian barat menjadi wilayah Nugini Belanda dan timur menjadi wilayah Inggris.

Meskipun begitu, warga Marind yang dikenal sebagai pemburu kepala kerap melewati perbatasan tersebut sehingga pada tahun 1902, seperti yang dimuat pula dalam laman Wikipedia, Pemerintah Belanda mendirikan pos militer di ujung timur Papua Selatan.

Pos yang berada di sekitar Sungai Maro itu didirikan untuk memperkuat perbatasan dan memberantas tradisi berburu yang dilakukan warga Marind. Di samping itu, Belanda juga menjadikannya sebagai tempat penyebaran agama Katolik yang ditujukan pula untuk menghentikan tradisi pemburuan kepala oleh warga Marind.

Lambat laun, pos tersebut menjadi makin ramai karena letaknya yang berada di Sungai Maro, pemerintah Belanda pun menamai wilayah tersebut dengan nama Merauke sekaligus ditetapkan sebagai Ibu Kota Provinsi Nugini Selatan. Orang-orang Jawa kemudian mulai berdatangan untuk membuka lahan persawahan di sana.

Seiring dengan berjalannya waktu, Belanda mendapatkan informasi mengenai keberadaan sebuah sungai yang lebih besar, yaitu Sungai Digul. Berdasarkan informasi tersebut, pemerintah Belanda bergerak cepat melakukan ekspedisi ke sana. Bahkan, pada tahun 1920-an, muncul ide dari Belanda untuk memanfaatkan pedalaman Papua sebagai kamp tahanan yang mereka beri nama Tanah Merah.

Sebagaimana yang dikisahkan oleh Johanes, dengan kata lain, wilayah Digul itu merupakan tempat para tokoh dan proklamator bangsa, seperti Sutan Sjahrir dan Moh Hatta dibuang oleh Belanda.

Singkat cerita, pada tahun 1960-an, pada saat Belanda sudah meninggalkan wilayah-wilayah tersebut, Tanah Merah pun makin ramai dan pada akhirnya menjadi Kabupaten Boven Digoel.

Sekitar tahun 1960-an itu pula, seluruh Nugini Belanda berhasil dikuasai Indonesia dan wilayah Nugini Selatan diubah menjadi Kabupaten Merauke.

Berikutnya, pada tahun 2002, Merauke dimekarkan menjadi empat kabupaten, yakni Kabupaten Merauke sebagai kabupaten induk, Boven Digoel, Mappi dan Asmat. Pada tahun 2022, seluruh wilayah tersebut dipersatukan menjadi Provinsi Papua Selatan.

Cakupan Wilayah

Secara lebih perinci, drat RUU tentang Pembentukan Provinsi Papua Selatan juga mengatur cakupan wilayah provinsi tersebut.

Pemerintah bersama DPR RI telah menetapkan Provinsi Papua Selatan mencakup empat kabupaten, yakni Kabupaten Merauke, Kabupaten Boven Digoel, Kabupaten Mappi dan Asmat. Selanjutnya, disepakati pula Ibu Kota Provinsi Papua Selatan berkedudukan di Kabupaten Merauke.

Editor : Donald Karouw

Halaman : 1 2 3

Follow Berita iNewsPapua di Google News

Bagikan Artikel: