Senjata Tradisional Papua, Untuk Berburu hingga Perang

Fajar Hendra Jaya ยท Rabu, 03 Agustus 2022 - 15:07:00 WIT
Senjata Tradisional Papua, Untuk Berburu hingga Perang
Ilustrasi, senjata tradisional Papua banyak digunakan oleh suku-suku di bumi Cenderawasih untuk berburu hingga berperang. (Foto: Dok. Kemenpar).

Kapak Batu

Senjata tradisional Papua berupa kapak batu, sesuai namanya terbuat dari batu kali yang dipahat berbentuk lonjong agak sedikit runcing di ujungnya. 

Kapak batu selain digunakan untuk menebang pohon juga digunakan sebagai alat bayar denda, mas kawin dan juga sebagai alat yang harus ada dalam acara ritual dan upacara adat. 

Kapak batu ini memiliki nilai sosial dan harga jual tinggi di kalangan masyarakat Papua, sehingga sangat dihargai  dan tidak asal sembarangan untuk digunakan.

Tombak

Merupakan salah satu senjata tradisional Papua yang juga sering digunakan oleh masyarakat tempat untuk berburu bahan makanan. Tombak ini terbuat dari kayu yang dibuat dengan ukuran panjang 3-4 meter dan diruncing dibagian ujungnya dengan sangat tajam, agar mampu mematikan buruan.

Tombak juga digunakan sebagai alat untuk berperang, karena dengan memiliki mata tombak yang runcing, akan mampu menembus badan lawan hingga tewas, sehingga sangat efektif digunakan untuk berperang. Selain itu, tombak juga digunakan untuk pelengkap tari-tarian dalam acara kebudayaan atau upacara adat.

Alat Tusuk

Senjata tradisional Papua berikutnya, yakni alat tusuk yang sering digunakan oleh suku Bauzi merupakan suku asli Papua yang hidup di bantaran sungai. 

Alat tusuk ini dibuat dari tulang kuskus yang kemudian diruncing dan dibentuk menyerupai anak panah.  Senjata alat tusuk ini dapat digunakan untuk berburu hewan dalam memenuhi kebutuhan mereka.

Selain itu, alat tusuk ini sangat ramah lingkungan karena  tidak memerlukan proses industri yang mampu mencemari lingkungan, sehingga alam pun bisa tetap terjaga. Pembuatannya disesuaikan dengan keinginan pemiliknya, bagaimana tingkat ketajaman dan keruncingan dari alat tusuk tersebut.

Editor : Kurnia Illahi

Bagikan Artikel: