MAYBRAT, iNews.id - Kelompok Organisasi Papua Merdeka (OPM) kerap menebar ketakutan dan memalak warga di Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya. Mereka meminta jatah Rp200.000 per kepala keluarga (KK) yang dilaporkan terjadi berulang.
Aksi yang diduga dilakukan kelompok OPM ini membuat sebagian warga memilih meninggalkan rumah demi menyelamatkan diri dari ancaman.
Kepala Penerangan Koops TNI Papua, Letkol Inf Wirya, mengungkapkan tekanan yang dialami masyarakat dalam kasus pemalakan OPM sangat besar hingga memaksa mereka mengungsi.
“Masyarakatnya masih sering diganggu pemalakan Rp200.000 per KK oleh OPM, sehingga masyarakat banyak kabur ke hutan, dan ada juga yang masih di hutan untuk mengungsi,” kata Wirya dikutip dari iNews Sorong Raya, Sabtu (21/3/2026).
Pemalakan yang dilakukan secara sistematis tidak hanya membebani ekonomi warga, tetapi juga menciptakan rasa takut berkepanjangan. Warga yang tidak mampu membayar memilih melarikan diri ke kawasan hutan.
Merespons laporan masyarakat, aparat TNI bergerak cepat melakukan evakuasi. Sebanyak 21 warga berhasil diselamatkan dari pengungsian di Dusun Topo, Kampung Ainesra, Distrik Aifat Timur Jauh, Selasa (17/3/2026).
Para pengungsi ini diketahui telah bertahan di hutan sejak pecah konflik pada 2022. Selama itu, mereka hidup dalam keterbatasan pangan, layanan kesehatan hingga ancaman keselamatan.
Operasi evakuasi dilakukan melalui patroli gabungan Koops TNI Papua bersama pemerintah daerah dan tokoh masyarakat setempat.
“Setelah pemalakan warga melaporkan ke pihak pemda, dan pemda meminta bantuan ke satgas untuk membantu pengamanan dalam pelaksanaan evakuasi,” ujar Letkol Wirya.
Para warga yang telah dievakuasi selanjutnya dibawa ke Pos Komando Taktis (Kotis) Koops TNI Papua untuk menjalani pemeriksaan kesehatan serta pendataan identitas.
Selanjutnya, mereka ditempatkan sementara di Distrik Aifat sambil menunggu proses pemulangan ke daerah asal, termasuk warga dari Kabupaten Teluk Bintuni.
Editor : Donald Karouw
Artikel Terkait