8 jenazah korban penembakan KKB di Nduga diterbangan ke kampung halaman (Foto: iNews/Nathan Making)
Donald Karouw

JAKARTA, iNews.id - Korban pembantaian kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Kampung Nogolait, Distrik Kenyam, Kabupaten Nduga, Papua bertambah menjadi 11 orang. Satu jenazah lagi ditemukan di sekitar lokasi pada Senin (18/7/2022).

Kendati demikian, identitas korban terakhir ini belum diketahui. Saat ini petugas gabungan masih dalam perjalanan untuk mengevakuasi jenazah korban KKB tersebut.

Informasi diperoleh, peristiwa penembakan massal ini bermula saat KKB dipimpin Egianus Kogoya dan Armi Tabuni bersama puluhan anggotanya mendatangi sebuah kios di lokasi kejadian. Awalnya ada 5 laki-laki dan 2 perempuan yang keluar.

Tapi kemudian kedua perempuan kembali disuruh masuk kios dan lima lainnya ditembak mati. Kelompok tersebut melanjutkan aksi teror keji dengan memberhentikan satu truk yang membawa 5 warga sipil di depan kios. Di situ para warga yang berada di atas truk itu diduga ditembaki hingga tewas di tempat.

Setelah melakukan penyerangan, para pelaku lari ke hutan. Sementara satu korban tewas terakhir ditemukan Senin (18/7/2022).

Diketahui, delapan jenazah telah diterbangkan ke kampung halaman masing-masing dengan tujuan Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara Timur. Kemudian ada yang dibawa ke Medan dan Palu.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Ahmad Musthofa Kamal mengatakan, penyerangan dan penembakan KKB terhadap pendeta, ustaz dan warga sipil terjadi di Kampung Nogolait, Kabupaten Nduga, Papua.

“Kejadian penyerangan terjadi pada hari Sabtu tanggal 16 Juli sekitar pukul 09.15 WIT di Kampung Nogolait, Kabupaten Nduga yang mengakibatkan 12 orang menjadi korban, 10 tewas dan dua terluka," ujarnya, Minggu (17/7/2022).

Kamal menyesalkan kejadian aksi KKB yang tidak berprikemanusiaan. Dia pun menegaskan, anggota Polres Nduga di-backup Satgas Damai Cartenz dan rekan-rekan TNI masih terus mendalami latar belakang dari perbuatan keji KKB tersebut dan melakukan pengejaran terhadap pelakunya.

“Sangat keji, tidak pandang bulu, seorang pendeta yang harusnya kita hargai dan kita hormati harus menjadi korban pembantaian Kelompok Kriminal Bersenjata," ujar Kamal.


Editor : Donald Karouw

BERITA TERKAIT