Duh, Persediaan Obat Malaria di Mimika Hanya Cukup hingga September 2020

Antara ยท Minggu, 09 Agustus 2020 - 10:37 WIT
Duh, Persediaan Obat Malaria di Mimika Hanya Cukup hingga September 2020
Ilustrasi nyamuk Malaria (Foto Kemenkes)

MIMIKA, iNews.id - Persediaan obat malaria, primaquine di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga September 2020. Hal ini tentu mengkhawatirkan sehingga perlu tambahan pasokan primaquine untuk mengobati penderita malaria.

"Stok obat DHP (dehidro artemisinin pipraquine) di kita sebetulnya masih cukup banyak. Yang terbatas itu obat primaquine. Yang jelas stok obat primaquine yang ada hanya bisa bertahan sampai September," kata Kepala Dinas Kesehatan Mimika Reynold Ubra, Minggu (9/8/2020).

Reynold menambahkan, meskipun ada wacana untuk meminjam obat malaria dari kabupaten tetangga, namun hal itu harus sepengetahuan Dinas Kesehatan Provinsi Papua melalui Instalasi Farmasi Daerah Papua.

"Untuk distribusi obat dan penggunaan obat semuanya di bawah pengawasan Instalasi Farmasi Provinsi," kata dia.

Menyangkut kekosongan stok obat malaria, menurut Reynold, hal itu tidak saja terjadi di wilayah Mimika dan Papua tetapi di seluruh Indonesia. Saat ini bahan baku obat yang diimpor dari luar negeri untuk sementara waktu belum tersedia.

"Bahan baku obat itu baru tersedia di pabrik pada awal 2021," katanya.

Lantaran persediaan obat malaria di Mimika terbatas, Dinkes setempat meminta warga untuk meningkatkan kewaspadaan diri agar tidak terinfeksi penyakit malaria yang ditularkan melalui gigitan nyamuk penyebab malaria yakni anopheles betina.

"Ketika keluar dari rumah pada malam hari menggunakan baju lengan panjang atau tetap tinggal di rumah di antara waktu mulai pukul 18.00 hingga pukul 06.00 WIT," kata dia.

Reynold juga mengimbau warga untuk menjaga lingkungan rumah tetap bersih sehingga tidak menjadi tempat perindukan nyamuk. Tempat-tempat yang potensial menjadi perindukan nyamuk seperti tempat penampungan air, bak mandi, air galon.

Dalam dua pekan terakhir, katanya, terjadi dua kasus kematian di Mimika karena kombinasi serangan malaria dan penyakit penyerta yaitu gagal ginjal.

Dinkes Mimika baru mengetahui kejadian itu setelah pasien dibawa ke rumah sakit dalam kondisi sudah parah dan pada akhirnya meninggal dunia.

"Satu kasus kematian bahkan tidak sempat dibawa ke rumah sakit. Beberapa hari sebelum pasien meninggal dunia sempat diperiksa darahnya dan ternyata positif terserang penyakit malaria," kata Reynold.


Editor : Nur Ichsan Yuniarto