Mantri Patra, Petugas Kemanusiaan yang Gugur dalam Pengabdian di Pedalaman Papua

Antara ยท Selasa, 25 Juni 2019 - 20:53 WIT
Mantri Patra, Petugas Kemanusiaan yang Gugur dalam Pengabdian di Pedalaman Papua
Jenazah Patra Kevin Marinna Jauhari yang dianugerahi anumerta ASN Kesehatan oleh Pemkab Teluk Wondama, Papua Barat, saat disemayamkan. (Foto: Facebook)

WASIOR, iNews.idMantri Patra, begitu bungsu dari empat bersaudara asal Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat, biasa disapa. Dia meninggal saat menjalankan tugas memberi pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Pedalaman Wondama, tepatnya di Kampung Oya, Distrik Naikere, sebuah desa terpencil dan terisolasi tanpa akses darat apalagi sarana komunikasi.

Pemuda 31 tahun itu menghembuskan napas terakhir pada 18 Juni silam. Dia wafat karena sakit. Namun jenazahnya baru dievakuasi 22 Juni atau 4 hari pascameninggal. Hal ini lantaran Letak Kampung Oya yang hanya bisa dijangkau dengan helikopter atau berjalan kaki selama berhari-hari sehingga membuat evakuasi terhambat.

Kematian Mantri Patra yang terbilang tragis menjadi keprihatinan banyak pihak. Dia menambah daftar panjang petugas kesehatan yang gugur dalam misi kemanusiaan di pedalaman Papua. Dia meninggal dalam kesendirian, tanpa ada keluarga, teman maupun kerabat yang mendampingi.

Kepala Puskesmas Naikere Tomas Waropen mengatakan, nyawa Patra mungkin dapat tertolong jika pihak dinas kesehatan maupun instansi terkait cepat merespons laporannya. Di mana ketika itu, dia sudah meminta bantuan evakuasi untuk mengirim helikopter saat kesehatan Patra memburuk.

"Kami sudah rapat sampai tiga kali dengan Dinas Kesehatan, Kesra dan Pak Sekda. Tapi tetap tidak ada jalan. Sampai akhimya dia sudah meninggal baru helikopter bisa naik," ujar Waropen, Minggu (23/6/2019).

Bagi Waropen, Patra merupakan pahlawan kemanusiaan. Dia rela mendedikasikan hidupnya untuk kebaikan masyarakat di Pedalaman Naikere tanpa banyak mengeluh dan menuntut. Sebuah tindakan mulia yang selalu dihindari banyak petugas medis lainnya.

"Patra merupakan pahlawan bagi masyarakat di Pedalaman Mairasi (nama suku di pedalaman Naikere). Sementara kami anak-anak negeri ini banyak yang jadi Judas (penghianat)," kata Tomas.

Diketahui, pria bernama Patra Kevin Marinna Jauhari itu pertama kali menjalani tugas kemanusiannya pada Februari 2019. Berbekal panggilan hati untuk menyelamatkan mereka yang terpinggir dan terlupakan, dia menjadi satu dari sekian banyak ASN yang menerima tugas dari Dinas Kesehatan Teluk Wondama melayani warga pedalaman.

Selama empat bulan lebih. dia bergumul dengan masyarakat di Kampung Oya Distrik Naikere. Dia bahkan memilih setia dalam tugas saat rekan kerja lainnya pulang dan tak kembali. Dalam kesendirian. Mantri Patra melayani warga hingga ajal menjemput.

Hal ini terjadi setelah helikopter yang seharusnya datang menjemput pada Mei tak kunjung datang. Di mana seharusnya, Mantri Patra bersama rekan-rekannya hanya bertugas selama tiga bulan dan digantikan dengan petugas lain.

Namun hingga akhir Mei 2019, tak ada helikopter yang datang menjemput. Sementara persediaan bahan makanan berupa beras, minyak goreng yang dibawanya telah lama habis. Demikian pula stok obat-obatan. Semua telah habis terpakai.

Ketika teman sesama perawat memutuskan turun ke Kota Wasior dengan berjalan kaki, Patra memilih tetap bertahan. Dia terus memberi pelayanan medis dengan kondisi apa adanya. Untuk mengisi hari, dia selalu berinteraksi dengan warga setempat. Berkunjung ke rumah warga dan bermain bersama pemuda setempat hingga ikut berkebun.

"Tiap sore dia pergi dengan anak-anak menyanyi-menyanyi," kata seorang warga Oya yang dikisahkan Kepala Puskesmas Naikere Tomas Waropen.

Atas kematiannya, Pemkab Teluk Wondama menganugerahkan pangkat anumerta dengan kenaikan satu tingkat lebih tinggi kepada mendiang Mantri Patra Kevin Marinnha Jauhari.

Penghargaan tersebut disampaikan oleh Bupati Bernadus Imburi pada acara pelepasan Patra dari Pemda Teluk Wondama ke pihak keluarga di gedung Sasar Wondama Manggurai, Wasior, Senin (24/6/2019).

"Saya melepas jenazah Patra Kevin Marinnha Jauhari yang boleh disebut pahlawan kemanusiaan di daerah ini,“ ucap Bupati.

“Mendiang merupakan ASN yang bekerja sungguh-sungguh dan setia terhadap tugas. Atas nama Pemda dan masyarakat, kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya. Karya dan pengabdiannya tidak bisa kami membalas. Tuhan yang akan menghitung dan membalas,” kata Bupati.

Bupati juga memohon maaf kepada keluarga besar mendiang atas keterlambatan dalam memberikan pertolongan saat yang bersangkutan sedang sakit. Termasuk evakuasi jenazah yang harus tertunda sampai 4 hari.

“Kalau ada helikoter di Wondama saya pasti akan minta tolong. Tempat ini susah sehingga semua jadi lambat. Karena itu saya selaku pemimpin Wondama saya mohon maaf. Secara pribadi saya rasa bersalah. Semua kelalaian, semua kelambatan, semua kesalahan biarlah ada di saya,” tuturnya.


Editor : Donald Karouw