get app
inews
Aa Text
Read Next : Viral Aksi Polisi Humanis di Bandung, Selamatkan Anak Kucing Terluka Diserang Anjing

Rastra Sewakottama di Papua, Kisah Pengabdian Brigadir Amharet di Zona Merah dengan Senjata Kasih

Rabu, 31 Desember 2025 - 14:17:00 WIT
Rastra Sewakottama di Papua, Kisah Pengabdian Brigadir Amharet di Zona Merah dengan Senjata Kasih
Brigadir Amharet Rirei yang dekat dengan anak-anak di Puncak Jaya, Papua Tengah. (Foto: IG Kabut Mulia)

PUNCAK JAYA, iNews.id - Seorang polisi berambut gimbal tanpa seragam taktis berdiri di tengah warga saat kabut tebal menyelimuti Kota Mulia, Ibu Kota Kabupaten Puncak Jaya, Papua Tengah. Wajahnya akrab dengan garis-garis senyum masyarakat pegunungan Papua yang kerap menjadi kaku karena konflik.

Dia adalah Brigadir Amharet Rirei, putra asli Papua asal Serui, Biak, polisi humanis yang berani masuk ke tengah pertikaian warga untuk mencegah perang suku.

"Tuhan yang atur semua. Jangan takut terhadap kematian sebab itu akan menghantui kita setiap saat," ujarnya dalam podcast Humas Presisi Polda Papua dikutip Rabu (31/12/2025).

Kalimat ini bukan kepasrahan, melainkan keberanian yang lahir dari iman teguh dan kepercayaan kepada masyarakat yang sudah dianggapnya sebagai saudara.

Selama 12 tahun, dia mendedikasikan tugas dan kariernya di "Zona Merah" dan tak pernah meminta mutasi. Sejak lulus pendidikan Polri pada Februari 2013, Amharet langsung diterjunkan ke Puncak Jaya, daerah dengan narasi kekerasan lebih sering muncul dibanding cerita tentang kehidupan warganya yang sederhana dan hangat.

Keberaniannya bukan tanpa alasan, selama ini dia menjadi sosok polisi yang melakukan pendekatan humanis dalam penegakan hukum ke masyarakat.

Dia menjalankan tugasnya dengan lebih mengedepankan kasih sayang, empati, dan solusi damai, daripada kekerasan atau penggunaan senjata fisik secara langsung hingga mendapat kepercayaan masyarakat.

Brigadir Amharet menemukan makna terdalam dari Rastra Sewakottama, pedoman hidup bagi setiap Bhayangkara untuk menjadi pelayan terbaik bagi bangsa dan rakyat. Falsafah itu bukan sekadar menjadi bordiran benang emas di seragamnya, namun menjadi detak jantung dalam pengabdian.

Editor: Donald Karouw

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya

iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut