Kisah Prajurit Paskhas Murka hingga Siap Ledakkan Tentara Australia dengan Granat di Bandara

Sucipto, Riezky Maulana · Senin, 13 Desember 2021 - 16:53:00 WIT
Kisah Prajurit Paskhas Murka hingga Siap Ledakkan Tentara Australia dengan Granat di Bandara
Pasukan elite TNI AU, Paskhas, berlatih tempur di Lanud Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau, Kamis (17/6/2021). (Foto: Pen Paskhas)

JAKARTA, iNews.id - Korps Paskhas merupakan pasukan elite dari TNI Angkatan Udara (AU). Seperti pasukan elite TNI lain, prajurit Baret Jingga ini juga disegani negara-negara di dunia karena kehebatan dan ketangguhannya. 

Salah satu bukti pasukan khusus dari matra dirgantara ini disegani saat insiden di Bandara Komoro, menjelang Provinsi Timor Timur atau Timtim memisahkan diri dari Republik Indonesia dan menjadi negara Timor Leste pada 20 Mei 2002. Saat itu, Korpaskhas TNI AU nyaris meledakkan tentara Australia dengan granat.

Sebanyak 80 prajurit Paskhas hampir kontak tembak dengan pasukan Australia yang tergabung dalam International Force for East Timor (Interfet). Kejadian ini berawal dari ketika pesawat C-130 Hercules yang membawa pasukan Interfet mendarat di Bandara Komoro. 

Paskhas berulang tahun ke 74 hari ini (foto: Okezone)
Korps Paskhas TNI AU, prajurit baret jingga  (Foto: Okezone)

Begitu keluar dari pesawat, pasukan Interferet langsung membentuk formasi tempur, perimeter pertahanan dan siap-siap bertempur. Dikutip dari buku Kiki Syahnakri: Timor Timur The Untold Story, aksi pasukan Interfet itu dilatarbelakangi informasi intelijen yang mereka terima, bahwa Timtim telah dikuasai milisi bersenjata. Timtim juga dikabarkan kacau balau.

Padahal, kenyataannya saat itu, kondisi keamanan di Timor Timur saat itu aman-aman saja. Hanya di hutan yang terjadi konflik. 

Bagi prajurit Korpaskhas yang tengah mengendalikan dan mengoperasikan Bandara Komoro, tindakan pasukan Interfet dinilai berlebihan. Prajurit Paskhas pun terheran-heran melihat aksi tentaran Australia. 

Melihat situasi yang semakin tegang, 80 prajurit Korpaskhas sudah bersiap mengokang senjata. Mereka berjaga-jaga jika terjadi konflik dengan Interfet, termasuk dengan pasukan Gurkha yang tergabung di dalamnya. 

Pasukan Interfet akhirnya mengetahui kondisi bandara aman-aman saja dan tidak ada milisi bersenjata. Mereka baru menyadari jika informasi intelijen mengenai kondisi Timtim sudah dikuasai milisi bersenjata tidak benar.

Ketegangan kembali terjadi ketika Pangkoopsau II Marsda TNI Ian Santosa tiba di Bandara Komoro pada 20 September 1999. Saat turun dari pesawat C-130 Hercules TNI AU, dia dikawal sejumlah pasukan Paskhas bersenjata lengkap. Tiba-tiba, pasukan Interfet langsung menodongkan senjata kepada rombongan Marsda TNI Ian Santosa yang mereka anggap sebagai ancaman. 

Editor : Maria Christina

Bagikan Artikel: