Pekerja Bangunan Gereja di Yahukimo Tewas Dibacok, Diduga Ulah KKB
Menurut Adarma, saksi LE menerangkan bahwa sejak 2017 korban bekerja sebagai tukang sekaligus penjaga kios selama pembangunan Gereja GIDI Motulen. Setelah gereja diresmikan pada 30 Oktober 2025,korban tidak lagi bekerja namun tetap tinggal di kamp tukang.
“Saksi LJ menyebut korban merupakan bagian dari tim sejak awal pembangunan gereja dan berperan sebagai juru masak. Adapun saksi H mengaku terakhir bertemu korban pada 15 November 2025 saat yang bersangkutan turun ke Kota Dekai untuk berbelanja,” katanya.
Lebih lanjut, Adarma menjelaskan, korban ditemukan di area kebun dekat kamp tempat tinggalnya. Saat ditemukan, korban tidak mengenakan baju, hanya memakai celana panjang biru dan tanpa alas kaki.
Tubuh Baharudin dalam posisi terlentang dengan luka bacok di bagian leher kiri. Kondisi tersebut memperkuat dugaan bahwa korban diserang secara sengaja oleh pelaku bersenjata.
“Di TKP, petugas menemukan barang bukti yang diduga digunakan pelaku, berupa sebuah kampak dan satu busur panah. Pelaku sementara diduga merupakan bagian dari kelompok kriminal bersenjata (KKB),” katanya.
Setelah olah tempat kejadian perkara, tim menyisir wilayah sekitar dan bertemu dengan tiga orang OAP (orang asli Papua). Mereka kemudian dibawa untuk dimintai keterangan lebih lanjut terkait kasus pekerja bangunan gereja tewas dibacok KKB di Yahukimo ini.
“Ketiganya berinisial JK, LK, dan YP. Tim juga mengamankan barang-barang berupa noken, pakaian, dompet hingga satu unit ponsel,” katanya.
Satgas Ops Damai Cartenz menegaskan penyelidikan kasus pekerja gereja tewas dibacok KKB di Yahukimo akan terus dilanjutkan hingga pelaku penyerangan berhasil diungkap dan diproses sesuai hukum.
Editor: Donald Karouw