Viral, Warga di Raja Ampat Gelar Doa Bersama Tolak Pencalonan Petahana

Chanry Andrew Suripatty · Selasa, 08 September 2020 - 10:50:00 WIT
Viral, Warga di Raja Ampat Gelar Doa Bersama Tolak Pencalonan Petahana
Video viral warga di Raja Ampat menggelar doa bersama. (Foto: Sindonews).

WAISAI, iNews.id - Kegiatan doa bersama warga di Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, viral di media sosial (medsos). Mereka berharap calon petahana tumbang dalam Pilkada 2020 serta menolak memilih calon tunggal.

Video berdurasi lima menit ini berlokasi di dekat tempat simpatisan mengiringi pendaftaran bakal calon bupati dan wakil bupati Raja Ampat, Papua Barat, Abdul Faris Umlati dan Orideko Iriano Burdam ke KPUD pada Sabtu (5/9/2020).

Dalam kegiatan itu, warga yang sebagian besar masyarakat asli Papua, menggelar doa bersama di perapatan jalan, 100 meter dari kantor KPUD Raja Ampat. Mereka tidak terjadi konflik antarwarga pendukung calon petahana.

Saat dikonfirmasi, Pendeta Padwa mengatakan, doa bersama ini demi kebaikan Kabupaten Raja Ampat. Selain itu agar para petinggi partai politik dapat memikirkan ulang pemberian surat dukungan kepada calon petahana.

"Sehingga pilkada di Raja Ampat berlangsung secara demokratis. Masyarakat sudah tidak mau dipimpin bupati yang sekarang, dukungan partai politik diambilnya semua," kata Pendeta Padwa, Senin (7/9/2020).

Menurut dia, calon petahana Abdul Faris Umlati ini bukanlah orang asli Papua. Kebijakan kepala daerah tersebut, kata dia, kerap kali mengabaikan harapan warga setempat.

Sementara itu Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP), Timorius Murib mengatakan, pencalonan orang-orang bukan asli Papua harus dibatalkan, karena dianggap tidak memenuhi Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus).

Meski Bupati Abdul Faris Umlati menggandeng wakilnya, Orideko Iriano Burdam, yang merupakan orang asli Papua, namun warga tetap ingin dua kandidat ini lahir dari warga lokal.

"Yang kita perjuangan baik calon bupati dan wakil bupati orang Papua, tidak ada fifty-fifty yaitu calon bupati papua dan wakilnya non-Papua," ujarnya.

Editor : Andi Mohammad Ikhbal